Minggu, 14 Agustus 2011

Generasi Bangsa Harus Peduli Arti Kemedekaan NKRI

Menjadi Indonesia Kembali

Penulis : H Rosihan Arsyad

(foto:dok/ist)

Jakarta-"remaja.com"

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan memperingati hari kemerdekaan yang ke-66. Sebuah umur yang cukup panjang, bahkan bagi sebuah bangsa.

Penting bagi kita memanfaatkan saat yang bersejarah ini untuk merenungkan dengan mendalam, apakah haluan kapal Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan para pendiri bangsa atau founding fathers kita.

Apakah semua penumpang kapal, artinya segenap rakyat Indonesia, sudah merasa nyaman sejahtera di atas kapal yang berlayar, bahkan dalam keadaan laut yang bergelombang di tengah kancah persaingan global saat ini?

Paling tidak terdapat tiga kriteria yang dapat kita pakai untuk menilai di mana posisi kita sekarang, yaitu membandingkan cita-cita para founding fathers yang diuraikan secara tegas dalam Pembukaan UUD 1945 dengan kondisi objektif saat ini:

Pertama, apakah negara Indonesia sudah benar-benar merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur?

Kedua, apakah benar kita sudah memiliki pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan.

Ketiga, apakah susunan negara Republik Indonesia sudah benar-benar menganut asas kedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Pancasila?

Kita harus mengakui bahwa ada sisi terang dan keberhasilan yang dicapai setelah presiden kita berganti enam kali. Indonesia diakui sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia di mana sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia membuktikan demokrasi kompatibel dengan Islam.

Karena perkembangan ekonominya, Indonesia masuk menjadi anggota negara G-20. Pertumbuhan ekonomi beberapa tahun terakhir ini berkisar di atas 6 persen.

Secara makro ekonomi stabil dan sehat. Indonesia juga tetap menjadi negara yang diperhitungkan terutama di ASEAN. Tetapi, apakah segala keberhasilan tersebut sudah memberikan manfaat bagi segala sendi kehidupan masyarakat?

Kedaulatan Terancam

Pada kenyataannya, kita masih dihantui banyak sisi suram yang dikhawatirkan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gagal. Dalam aspek ekonomi kita belum merdeka. Banyak aset ekonomi strategis kita yang justru dikuasai asing semisal telekomunikasi, perbankan, energi, bahkan pangan. Dalam aspek politik kita melihat carut marut proses pemilihan kepala daerah.

Bahkan, keabsahan anggota DPR sekarang pun dipertanyakan karena ditengarai adanya kecurangan dalam penentuan anggota DPR.

Harus diakui proses politik kita belum mampu melahirkan pemimpin terbaik, dibuktikan dari banyaknya anggota DPR, gubernur, bupati dan wali kota bahkan (mantan) menteri yang dipenjara, atau dalam proses hukum karena kasus-kasus korupsi.

Politik luar negeri kita masih terasa berada di bawah cengkeraman sejumlah persoalan separatisme di Aceh masa lalu dan di Papua. Bahkan, pilar politik luar negeri kita lebih didasarkan pada kepentingan regional dan internasional, bukan kepentingan nasional!

Dalam aspek persatuan, lagi-lagi kita melihat masih adanya gangguan separatisme di daerah. Kita juga masih melihat kesenjangan antardaerah, antargolongan, dan ketidakseimbangan antara pusat dan daerah.

Kedaulatan wilayah kita masih terganggu. Setelah kehilangan Pulau Sipadan dan Ligitan masih banyak intrusi yang dilakukan negara asing terhadap wilayah perairan dan perbatasan.

Kasus persengketaan wilayah di perairan Ambalat dan kasu-kasus berkurangnya luas wilayah darat akibat berpindahnya tapal batas wilayah kita di Kalimantan, serta pelanggaran udara dan laut kita oleh pesawat udara dan kapal perang terutama kapal selam asing merupakan contoh bagaimana kurangnya kemampuan dan kekuatan laut dan udara kita dalam mengendalikan dan menjaga kedaulatan kita.

Belum Melindungi

Menilik dari sisi tujuan nasional, kita masih belum merasa kuatnya perlindungan negara terhadap segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Banyaknya masalah yang dihadapi tenaga kerja RI di luar negeri, termasuk yang terancam bahkan telah dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi adalah contoh suram perlindungan negara RI terhadap warganya, walaupun setelah mendapat reaksi yang kuat pemerintah berhasil membebaskan awak kapal MV Sinar Kudus. Peristiwa Ciekeusik dan penanganannya serta peristiwa serupa masih mengusik rasa keadilan kita.source sinar harapan-//kba.ajiinews//remaja.com//morassdi//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar